-->

Sepak Bola dan Kematangan Jiwa

Arsya putra sulungku gemar bermain bola dan beberapa kali menjadi juara Bersama sekolahnya, prestasi akademiknya juga lumayan dia dan tim sekolahnya juga juara olimpiade di kecamatan. Suatu ketika dua kegiatan itu terjadi secara bersamaan, ibunya Nampak kualahan karena dia memilih untuk ikut turnamen dari pada mengikuti seleksi olimpiade yang akan bertanding di kabupaten.

Sebagai ayah aku menggunakan hak vetoku untuk memilih mengikuti seleksi olimpiade walau dia tetap membawa Sepatu bola ditasnya karena setelah selesai dia langsung main bola cerita istriku. Bola bagiku cukup sebagai hoby saja karena Pendidikan tetap menjadi prioritas tapi aku tidak ingin membatasi keinginannya. Tidak usah berbicara di level nasional, dilevel amatir banyak PR yang harus di benahi. Memori masa laluku tentang sepak bola kampung selalu kelam: perkelahian, caci maki, dan ego. Itulah sebabnya aku jarang menonton bola kecuali terpaksa. Bagiku, sepak bola sering kali kehilangan esensinya sebagai olahraga ketika fanatisme buta mengambil alih.

Singkat cerita setelah seleksi olimpiade dan dinyatakan lolos ternyata dia langsung diantar gurunya untuk bermain sepakbola yang juga masuk 8 besar. Di tahap ini dia girang karena aku mengiyakan kalau akan menontonnya. Sebagai bentuk support aku bawa full team ibu dan adik-adiknya.

Di lapangan, mereka bermain lepas. Namun, pemandangan lama itu kembali: sorakan dan bully dari suporter lawan terdengar menyakitkan dari kejauhan aku hanya bisa berteriak untuk tetap tenang aku anggap ini untuk Latihan mental. Akhirnya sampai juga di babak final dan mereka menang dengan skor 2-0 tapi setelah itu ada insiden karena selebrasi yang berlebihan dari salah satu temannya. Akhirnya supporter yang tidak terima masuk ke dalam lapangan, untungnya panitia sigap melerai, aku melihat dari kejauhan masalah yang selalu sama dan berulang dari dulu.

Anakku mendatangiku.

“ Kita di bully dari awal kok sekarang gak terima”

Aku hanya tersenyum dan berkata

“ Itulah kenapa bapak nyuruh kamu ikut seleksi olimpiade, sepabola itu bagus untuk melatih kerja keras, kedisiplinan, sportifitas dan sikap positif lainnya tapi tergantung orangnya mau mengganggap itu sekedar permainan atau fanatisme berlebihan, Sudah sana rayakan kemenangan”

Dia tersenyum dan Kembali Bersama timnya

Saat melihat punggungnya menjauh, aku sadar sepak bola kita masih punya banyak PR. Bagaimana mau maju jika menganggap sepak bola sebagai sebuah "permainan" saja kita belum lulus?

Arek Asrama Eps 1 – Istana 900 Ribu

Kenapa kami memilih asrama ini? Jawabannya bukan karena pengen mandiri, tapi karena kami miskin yang realistis. Tahun 2005, di saat kos-kosan Surabaya paling murah sudah mematok harga 150 ribu per bulan, asrama ini muncul layaknya pahlawan: 900 ribu rupiah. Bukan per bulan, bukan per semester, tapi PER TAHUN. Kalau dikalkulasi, biaya sewa kami lebih murah daripada biaya parkir motor di mal. Tapi ya ada harga, ada rupa (dan bau).

Dibalik Sarang Lebah Eps 23 – Demam Full House: Saat "Semangat" Menjadi Polusi Suara

Awal tahun 2005, Indosiar adalah kiblat segala drama. Setelah kita semua dibuat babak belur oleh drama Taiwan—mulai dari kedinginan bareng F4 di Meteor Garden, balap lari di MVP Lover, sampai galau di At Dolphin Bay—tiba-tiba peta kekuatan berubah. Sebuah drama Korea bertajuk Full House menyerang jam 5 sore kita dengan kekuatan penuh.

Full House bukan cuma tontonan; ia adalah sekte. Lee Young-jae dan Han Ji-eun bukan sekadar karakter, mereka adalah alasan kenapa remaja saat itu tiba-tiba mengalami gangguan perilaku massal.

Di Balik Sarang Lebah Eps 22 – Huru-Hara Sweet Seventeen Dian: Antara Glamour dan Doa Mustajab

Sweet Seventeen. Sebuah frasa keramat yang paling ditunggu-tunggu remaja di muka bumi. Biasanya, teman-teman perempuan kami yang banyak merayakan ulang tahun ke-17 dan khusus laki-laki pada umumnya cukup syukuran sederhana atau traktiran bakso atau makan Gurami di Warung Gizi Sukowono. Tapi, rumus itu tidak berlaku untuk Dian.