Hari ini definisi monday blues versi hardcore, padahal bukan hari Senin. Bayangkan, dari pagi buta sudah kehujanan hanya untuk datang rapat, lanjut ngurusin mahasiswa pasca-Jumatan, eh, sorenya bukannya healing, malah diseret rapat kelompok riset dadakan.
Keluar dari kampus pas Maghrib, badan rasanya remuk redam kayak kerupuk keinjak tronton. Dalam hati aku sudah hitung-hitungan waktu, "Fix, sampai Tamanan Bondowoso pas Isya. Itu pun kalau nggak ketiduran di jalan."
Awalnya, perjalanan dari Patrang masih syahdu. Kecepatan 50 km/jam, angin sepoi-sepoi, damai. Tapi begitu masuk Baratan, jeng jeng! Hawa-hawa neraka mulai terasa.
Tiba-tiba, aku dikepung pasukan bermotor. Kanan, kiri, depan, belakang. Bukan geng motor sangar, tapi gerombolan muda-mudi yang knalpotnya minta diruqyah. Suaranya bukan lagi "brem-brem", tapi lebih mirip kaleng rombeng dipukul pakai palu Thor tepat di gendang telinga.
Aku cuma bisa membatin, "Ya Allah, cobaan apa lagi ini?"
Kelakuan mereka makin menjadi. Ada yang "mblayer" gas sampai motornya batuk-batuk, ada juga yang standar sampingnya (jagrag) sengaja digesek ke aspal sampai keluar percikan api. Cosplay jadi Ghost Rider versi low budget. Sumpah, kampungan banget.
Situasi makin chaos karena ada mobil patroli polisi dan DLLAJ lewat. Aku sudah parno, takut ada tawuran massal atau adegan film Crows Zero versi kearifan lokal.
Puncaknya di palang pintu kereta api Arjasa. Kereta lewat, konvoi berhenti. Bukannya tobat, mereka malah nyalakan kembang api! Duar! Duar! Asap di mana-mana. Aku geleng-geleng kepala melihat formasi boncengan mereka: ada yang bonceng tiga, ada yang ceweknya di depan nyetir kayak pembalap MotoGP sementara cowoknya di belakang megangin bendera You'll Never Walk Alone kayak tiang infus berjalan.
"Astagfirullah," gumamku sok suci. "Pasti anak SMA baru puber."
Iseng, aku buka kaca helm dan tanya ke salah satu peserta konvoi yang mukanya cemong kena asap knalpot. "Woy, Mas! Ada acara apaan sih ini? Rusuh amat!" Dia nyengir kuda, "Juara sepak bola, Pak! Pesta!"
Mendengar kata "juara" dan melihat tingkah norak mereka, tiba-tiba hatiku melunak. Flashback zaman sekolah. Dulu... ya ampun, aku juga pernah sealay ini. Bedanya dulu belum ada kembang api, cuma teriak-teriak nggak jelas sampai suara habis. Melihat mereka joget-joget di atas motor (yang sumpah bahaya banget), rasa benciku berubah jadi nostalgia cringe. Ah, biarlah, namanya juga darah muda.
Kami pun sampai di lampu merah Arjasa. Mereka masih sorak-sorai kayak orang kesurupan massal. Aku berdoa dalam hati, "Please, jangan belok kanan. Jangan belok kanan. Aku berharap bukan alamamaterku"
Karena penasaran tingkat dewa, aku tanya lagi ke pengendara di sebelahku pas lampu merah.
"Mas, emang SMA mana sih yang juara? Heboh bener."
Mas-mas itu menoleh semangat, "SMAN KALISAT, PAK! "
