Malam Minggu di pertigaan Rumah Sakit Ajung biasanya sunyi, namun di ruang tamu rumah Dian, suasana terasa berat oleh "curhat" tingkat nasional. Dian dan Adi sedang dalam fase jenuh. Bukan karena pacar mereka—si pemain basket dan pemain voli yang sedang sibuk tanding—tapi karena gangguan para "predator" asmara.
Banyak kakak kelas hingga alumni yang masih saja mencoba masuk ke celah hubungan mereka. "Rasanya kayak mau bangun benteng, Di. Tapi benteng yang nggak bisa ditembus sama gombalan maut senior," keluh Dian sambil memeluk bantal sofa.
Dian tiba-tiba menegakkan punggungnya. Matanya berbinar misterius. "Gini aja. Besok kita ke Sukogidrih. Ke rumah Buyutku. Beliau 'sepuh' soal urusan ngunci hati. Biar cowok-cowok itu menjauh secara alami."
Adi, yang sebenarnya lebih takut kecoa daripada hantu, hanya bisa mengangguk pasrah.
Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan para pacar yang mengira mereka hanya jalan-jalan sore, mereka berangkat. Namun, entah bagaimana ceritanya, kedua pacar atlet mereka akhirnya ikut bergabung karena curiga melihat gelagat Dian dan Adi yang "mencurigakan".
Sampai di Sukogidrih, nyali Adi menciut. Rumah Buyut Dian terbuat dari bambu tua yang berderit setiap kali tertiup angin. Persis lokasi syuting film horor Suzzanna. Pohon kamboja di depan rumah seolah melambai, menyambut mereka dengan aroma mistis yang kental.
"Siapa?" suara parau dari dalam rumah membuat Adi hampir melompat ke pelukan pacarnya.
"Dian, Yut," jawab Dian tenang.
Mereka berempat masuk. Dian menghilang di balik tirai lusuh selama 20 menit, meninggalkan Adi dan para pacar yang duduk kaku di kursi kayu tua. Keheningan itu pecah saat Dian keluar membawa empat gelas air dalam cangkir tanah liat.
Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul. Buyut Dian—seorang pria tua dengan kopyah hitam yang sudah memudar warnanya—duduk di hadapan mereka. Beliau tidak bicara. Tangannya yang keriput perlahan menyulut rokok kretek. Asapnya mengepul, menari-nari di udara yang pengap, menciptakan suasana yang makin ganjil.
Buyut mengangkat tangan, lalu mulai merapalkan doa-doa dalam bahasa yang tak mereka mengerti. Suaranya berat dan bergumam. "Angkat tangan kalian," perintahnya singkat.
Mereka berempat patuh, mengangkat tangan seperti sedang berdoa di sekolah. Adi melirik ke arah pacar Dian; mereka berdua sedang berjuang mati-matian menahan tawa melihat keseriusan ritual ini di tengah abad modern.
"Minum," kata Buyut dingin.
Mereka pun meminum air putih dari cangkir tanah itu. Rasanya... ya, seperti air putih biasa, tapi entah kenapa terasa ada sensasi dingin yang menjalar. Saat mereka saling tatap, benteng pertahanan tawa mereka hampir jebol, namun tatapan tajam Buyut membuat mereka tetap diam seribu bahasa.
Saat mereka berpamitan dan melangkah keluar, langit Sukogidrih yang tadinya mendung akhirnya tumpah. Hujan deras turun dengan ritme yang menenangkan, membasahi tanah desa yang kering dan memunculkan aroma petrichor—wangi tanah basah yang selalu berhasil menyentuh sisi melankolis siapa pun.
Mereka berlari menembus hujan dan berteduh di Balai Desa Karang Paiton. Di bawah atap balai desa, di tengah suara rintik hujan yang menghantam genteng tanah liat, tawa yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah.
"Gila, aku tadi hampir tertawa pas Buyut niup asap kretek ke arah kita!" seru Adi sambil memeras ujung bajunya yang basah.
Dian tertawa lepas, "Tapi manjur kan? Lihat, kita jadi makin kompak begini."
Dua pacar mereka yang atletis itu pun ikut tertawa, merangkul pasangan masing-masing. Di tengah dinginnya air hujan, ada kehangatan yang menjalar. Mereka sadar, bukan air dari cangkir tanah liat itu yang mempererat hubungan, melainkan kebersamaan dan perlindungan yang mereka berikan satu sama lain.
Hujan perlahan mereda menjadi gerimis halus. Di ufuk barat, sebuah pelangi melengkung indah, mewarnai langit desa yang kembali cerah. Sederhana, lucu, tapi sangat berarti.
Namun, sekuat apa pun doa di rumah bambu dan seindah apa pun pelangi di Karang Paiton, garis takdir berkata lain. Ternyata, "benteng" yang dibangun Buyut tidak benar-benar permanen.
Dian Hubungannya dengan si pemain basket ternyata hanya bertahan 4 bulan setelah kejadian itu. Kesibukan turnamen dan sifat remaja yang masih labil perlahan meruntuhkan apa yang mereka usahakan di Sukogidrih.
Adi Sedikit lebih tangguh, hubungannya bertahan hingga 8 bulan. Namun, pada akhirnya, perbedaan visi membuat mereka memilih untuk jalan masing-masing.
Ritual air putih dalam cangkir tanah itu memang gagal mengunci hati mereka selamanya, tapi berhasil memberikan satu kenangan tak terlupakan. Pada akhirnya, Dian dan Adi kembali ke status lama mereka: para petualang cinta.
Mereka kembali menjelajahi manis dan pahitnya asmara di Jember dan sekitarnya, menyadari bahwa terkadang, tujuan dari sebuah perjalanan bukanlah untuk sampai di garis finish, melainkan untuk menikmati tawa di bawah guyuran hujan desa bersama orang yang pernah kita cintai.
